Entah aku tak tahu, apakah catatan ini menarik atau tidak, namun bagaimanapun yang pasti catatan ini bagiku pribadi tetaplah merupakan salah satu catatan penting yang aku abadikan di diaryku sebagai monumen kenangan dalam fase perjalanan hidupku menjadi seorang penulis.
Bahkan boleh di bilang bahwa catatan kenangan ini adalah rekaman peristiwa saat aku benar-benar merasakan bahwa diriku diakui dan dianggap resmi sebagai penulis. Momen yang sangat indah.
Memang sejak awal karirku memilih jalur menekuni dunia kepenulisan, media yang banyak menginspirasiku sekaligus kerap aku jadikan referensi utama dalam berbagai hal adalah Majalah Remaja Annida. Kala itu, Annida masih dikawal oleh sosok-sosok yang terus terang menjadi favoritku sejak menginjak usia remaja. Nama semisal Mbak Helvy, Mbak Dian Yasmina Fajri (bagaimana kabar beliau sekarang ya?), Mbak Rahmadiyanti Rusdi, Mbak Meutia Geumala, Mbak Dewi Fitri Lestari dan Mas Muhammad Yulius, adalah nama yang terus mengobarkan semangat dalam hatiku untuk terus menulis dan menulis.
Dari Annida ini juga aku mengenal FLP. Ketika itu, medio 1999, saat aku menjabat sebagai redaktur pelaksana Mading Pesantren Addhiya', diam-diam aku menyimpan sebuah keinginan yang waktu itu rasanya sangat mustahil terpenuhi, yaitu bagaimana aku bisa menjadi anggota FLP. Tetapi berbarengan dengan keinginan itu muncul juga pertanyaan, siapa yang bisa aku hubungi, bagaimana caranya? Sementara aku jauh berada di pelosok desa di kabupaten udik yang namanya barusan terkenal saja sebab gara-gara bom Bali, Lamongan.
Fasilitas komunikasi saat itupun masih belum seperti sekarang, aku hanya bisa ternganga-nganga setiap membaca Annida, mataku selalu berbinar penuh harap dan penuh bisik dalam hati, Ya Allah, kapan aku bisa menjadi anggota FLP, kapan aku bisa dekat dengan para penulis ini, mengenal mereka, menggali ilmu dari mereka, apa mungkin? Aku hanya bisa terdiam setiap kenyataan di depanku berbicara lain.
Waktu pun terus berlalu, aku melanjutkan petualangan ilmiahku dengan melanglangbuana dari pesantren ke pesantren, dan aku terus mengasah kemampuan menulisku. Yang aku ingat, setiap aku singgah di kota manapun, aku selalu menyempatkan diri untuk mampir sejenak ke toko buku yang ada di situ dan mencari buku dengan logo FLP. Karena dalam hatiku selalu ada keyakinan, bahwa buku berlabel FLP adalah jaminan; jaminan kreativitas, jaminan kredibilitas, jaminan inovasi, jaminan iluminasi, jaminan keindahan kata-kata, jaminan kekuatan bahasa, jaminan kekayaan ruhani, jaminan kemantapan hati, jaminan pembangunan jiwa, dan jaminan peningkatan rasa takwa.
Dan sekali lagi mataku berkaca-kaca, hatiku sedikit meratap sekaligus berdoa, Ya Allah, kapan aku bisa bergabung FLP? Cabang mana yang bisa aku temui? Sebelum aku menerawang menatap birunya langit dan mengangguk mantap seraya berucap lirih, Insya Allah suatu waktu aku akan jadi bagian FLP.
Dan kesempatan itu hampir saja datang saat aku menjejakkan kakiku di Malang, kala aku mendalami ilmu-ilmu agama dan dakwah di salah satu pesantren elit di kota itu. Aku dengar ada FLP Jawa Timur, dan aku mendapat kontak ketuanya kala itu, Pak Bachtiar HS. Tentu saja seketika aku kontak beliau dan mengutarakan keinginanku untuk bergabung ke FLP, hatiku begitu bahagia dan berbinar.
Tetapi lagi-lagi Allah belum Menghendaki, waktunya belum tiba, sebab saat aku hendak mendaftarkan diri bergabung ke FLP Jawa Timur, aku mendapat panggilan untuk meneruskan studi ke Makkah. Impianku harus aku simpan dulu. Saat itu awal 2004.
Tak terasa waktu terus berlalu, ka annahum yauma yarounaha lam yalbatsu illa 'asyiyyatan au dhuhaha... tahu-tahu telah masuk 2007, aku masih terus mengasah kemampuan menulisku, hanya saja selama kurun waktu itu aku menulis dalam Bahasa Arab, menuai beberapa karya, walhamdulillah.
Pada tahun itu juga, keinginan lamaku kembali mencuat, FLP ternyata tak pernah lekang dari hatiku, tak lindap dari ingatanku, setelah tanpa sengaja aku mendengar bahwa di Mesir ada FLP. Aku berpikir, apakah Saudi Arabia ada FLP? Mendadak aku mempunyai ide lain, tak sekedar bergabung FLP, tapi ingin merintis FLP Saudi, jika memang belum ada.
Namun sekali lagi, sulitnya komunikasi membuatku untuk sementara menyimpan lagi keinginan itu. Tetapi aku tetap mantap, suatu saat aku akan masuk FLP, Insya Allah.
Hari pun berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, hingga masuk 2009. Entah bagaimana ceritanya aku mulai mengenal dunia chatting. Sangat terlambat memang aku mengenal dunia maya. Namun ternyata melalui Mig33 inilah awal tergiringnya aku pada cita-cita yang lama aku pendam.
Seiring dengan semakin aktifnya aku berdiskusi dan bertukar pikiran di Room-Room Mig33, iseng memposting tulisan-tulisan di Blog, dan pertemananku yang semakin meluas, tanpa sengaja suatu hari aku ngobrol dengan salah satu sahabat yang juga tinggal di Saudi, tepatnya dia di Jeddah dan aku di Makkah.
Omong punya omong kami berdua berbincang soal dunia kepenulisan, dan mendadak dia menawariku, "Akhi, gabung FLP yuk?" Tentu saja aku terlonjak kaget.
"Hah, FLP mana ukh?"
"Ya FLP Saudi Arabia, gimana? Aku kenalkan ke ketuanya ya?"
"Di Saudi ada FLP? Sejak kapan?" Tanyaku mengejar dengan penuh rasa penasaran serta kegembiraan tak terungkap.
"Baru saja kok akh, ini kami sedang merintis, akhi harus masuk lho ya, kan udah punya banyak tulisan. Memang sih belum resmi diakui pusat, tapi yuk kita bersama membangun FLP di sini."
Malam itu, usai chatting bersejarah tadi, dan usai aku berkenalan dengan Ketua FLP Saudi yang seketika itu juga menjadikanku sebagai salah satu staff, aku tidak bisa tidur. Kegembiraan dan ketidakpercayaan luar biasa melingkupi diriku. Subhanallah, benar aku sudah masuk FLP? Secepat ini? Tanggal itupun, 22 Jumadil Ula 1431, aku bubuhkan di salah satu kitab yang aku kaji, dengan kuberi tulisan berbahasa Arab di bawahnya, "yaumul inkhirath fi FLP"
Semua berjalan sangat lancar, kami (saat itu masih berempat) terus melakukan komunikasi dan koordinasi, melobi teman-teman di Saudi untuk direkrut masuk jadi bagian FLP Saudi, hingga akhirnya FLP Saudi mendapat pengakuan dari pusat. Hari-hariku sebagai penulis dan sebagai pengurus FLP Saudi Arabia semakin aku nikmati.
Dan aku benar-benar merasa menjadi seorang penulis yang sebenarnya, yang diakui, setelah secara resmi aku menerima kartu anggota FLP.
Aku genggam erat kartu anggota FLP itu, simbol bahwa aku adalah penulis. Dan perasaan ini aku ungkapkan apa adanya, aku ceritakan pada pendiri FLP, Mbak Helvy Tiana Rosa saat bertemu beliau di musim haji 2010, "Mbak, aku merasa benar-benar jadi penulis setelah menerima Kartu Tanda Anggota FLP." Dan kulihat beliau tersenyum dengan begitu berbinar dan saat itu juga beliau mengetik ungkapanku barusan di Twitter.
Ah FLP, bagiku kau terlalu indah. Oh ya, Masih ada keinginanku dengan FLP, aku ingin sekali melihat logo berwibawa FLP di setiap sampul buku-buku karyaku, semoga keinginan itu segera terwujud, amin Ya Rabbal Alamin :)
Tetaplah jaya FLP-ku. Sebabmu aku bisa terus termotivasi untuk BERBAKTI pada ummat, sebabmu aku bisa terus BERKARYA untuk memberi yang terbaik pada ummat, sebabmu juga aku bisa terus terobsesi untuk selalu BERARTI bagi ummat... Bukankah Nabi telah bertitah, Khoirukum, Anfa'ukum li-n Nas? Yang terbaik di antara kalian, adalah yang paling banyak memberi kontribusi positif untuk manusia dan kemanusiaan. Wallahu A'lam... (*)
Makkah, distric of al-Raseefa, 15 Rabea el-awwal, 1433/6 Februari 2012
Awy' Ameer Qolawun, Penulis dan Koordinator Staff FLP Saudi Arabia
Divisi Support System.
READ MORE - Aku dan FLP; Asa yang Tak Lindap Oleh Waktu
Bahkan boleh di bilang bahwa catatan kenangan ini adalah rekaman peristiwa saat aku benar-benar merasakan bahwa diriku diakui dan dianggap resmi sebagai penulis. Momen yang sangat indah.
Memang sejak awal karirku memilih jalur menekuni dunia kepenulisan, media yang banyak menginspirasiku sekaligus kerap aku jadikan referensi utama dalam berbagai hal adalah Majalah Remaja Annida. Kala itu, Annida masih dikawal oleh sosok-sosok yang terus terang menjadi favoritku sejak menginjak usia remaja. Nama semisal Mbak Helvy, Mbak Dian Yasmina Fajri (bagaimana kabar beliau sekarang ya?), Mbak Rahmadiyanti Rusdi, Mbak Meutia Geumala, Mbak Dewi Fitri Lestari dan Mas Muhammad Yulius, adalah nama yang terus mengobarkan semangat dalam hatiku untuk terus menulis dan menulis.
Dari Annida ini juga aku mengenal FLP. Ketika itu, medio 1999, saat aku menjabat sebagai redaktur pelaksana Mading Pesantren Addhiya', diam-diam aku menyimpan sebuah keinginan yang waktu itu rasanya sangat mustahil terpenuhi, yaitu bagaimana aku bisa menjadi anggota FLP. Tetapi berbarengan dengan keinginan itu muncul juga pertanyaan, siapa yang bisa aku hubungi, bagaimana caranya? Sementara aku jauh berada di pelosok desa di kabupaten udik yang namanya barusan terkenal saja sebab gara-gara bom Bali, Lamongan.
Fasilitas komunikasi saat itupun masih belum seperti sekarang, aku hanya bisa ternganga-nganga setiap membaca Annida, mataku selalu berbinar penuh harap dan penuh bisik dalam hati, Ya Allah, kapan aku bisa menjadi anggota FLP, kapan aku bisa dekat dengan para penulis ini, mengenal mereka, menggali ilmu dari mereka, apa mungkin? Aku hanya bisa terdiam setiap kenyataan di depanku berbicara lain.
Waktu pun terus berlalu, aku melanjutkan petualangan ilmiahku dengan melanglangbuana dari pesantren ke pesantren, dan aku terus mengasah kemampuan menulisku. Yang aku ingat, setiap aku singgah di kota manapun, aku selalu menyempatkan diri untuk mampir sejenak ke toko buku yang ada di situ dan mencari buku dengan logo FLP. Karena dalam hatiku selalu ada keyakinan, bahwa buku berlabel FLP adalah jaminan; jaminan kreativitas, jaminan kredibilitas, jaminan inovasi, jaminan iluminasi, jaminan keindahan kata-kata, jaminan kekuatan bahasa, jaminan kekayaan ruhani, jaminan kemantapan hati, jaminan pembangunan jiwa, dan jaminan peningkatan rasa takwa.
Dan sekali lagi mataku berkaca-kaca, hatiku sedikit meratap sekaligus berdoa, Ya Allah, kapan aku bisa bergabung FLP? Cabang mana yang bisa aku temui? Sebelum aku menerawang menatap birunya langit dan mengangguk mantap seraya berucap lirih, Insya Allah suatu waktu aku akan jadi bagian FLP.
Dan kesempatan itu hampir saja datang saat aku menjejakkan kakiku di Malang, kala aku mendalami ilmu-ilmu agama dan dakwah di salah satu pesantren elit di kota itu. Aku dengar ada FLP Jawa Timur, dan aku mendapat kontak ketuanya kala itu, Pak Bachtiar HS. Tentu saja seketika aku kontak beliau dan mengutarakan keinginanku untuk bergabung ke FLP, hatiku begitu bahagia dan berbinar.
Tetapi lagi-lagi Allah belum Menghendaki, waktunya belum tiba, sebab saat aku hendak mendaftarkan diri bergabung ke FLP Jawa Timur, aku mendapat panggilan untuk meneruskan studi ke Makkah. Impianku harus aku simpan dulu. Saat itu awal 2004.
Tak terasa waktu terus berlalu, ka annahum yauma yarounaha lam yalbatsu illa 'asyiyyatan au dhuhaha... tahu-tahu telah masuk 2007, aku masih terus mengasah kemampuan menulisku, hanya saja selama kurun waktu itu aku menulis dalam Bahasa Arab, menuai beberapa karya, walhamdulillah.
Pada tahun itu juga, keinginan lamaku kembali mencuat, FLP ternyata tak pernah lekang dari hatiku, tak lindap dari ingatanku, setelah tanpa sengaja aku mendengar bahwa di Mesir ada FLP. Aku berpikir, apakah Saudi Arabia ada FLP? Mendadak aku mempunyai ide lain, tak sekedar bergabung FLP, tapi ingin merintis FLP Saudi, jika memang belum ada.
Namun sekali lagi, sulitnya komunikasi membuatku untuk sementara menyimpan lagi keinginan itu. Tetapi aku tetap mantap, suatu saat aku akan masuk FLP, Insya Allah.
Hari pun berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, hingga masuk 2009. Entah bagaimana ceritanya aku mulai mengenal dunia chatting. Sangat terlambat memang aku mengenal dunia maya. Namun ternyata melalui Mig33 inilah awal tergiringnya aku pada cita-cita yang lama aku pendam.
Seiring dengan semakin aktifnya aku berdiskusi dan bertukar pikiran di Room-Room Mig33, iseng memposting tulisan-tulisan di Blog, dan pertemananku yang semakin meluas, tanpa sengaja suatu hari aku ngobrol dengan salah satu sahabat yang juga tinggal di Saudi, tepatnya dia di Jeddah dan aku di Makkah.
Omong punya omong kami berdua berbincang soal dunia kepenulisan, dan mendadak dia menawariku, "Akhi, gabung FLP yuk?" Tentu saja aku terlonjak kaget.
"Hah, FLP mana ukh?"
"Ya FLP Saudi Arabia, gimana? Aku kenalkan ke ketuanya ya?"
"Di Saudi ada FLP? Sejak kapan?" Tanyaku mengejar dengan penuh rasa penasaran serta kegembiraan tak terungkap.
"Baru saja kok akh, ini kami sedang merintis, akhi harus masuk lho ya, kan udah punya banyak tulisan. Memang sih belum resmi diakui pusat, tapi yuk kita bersama membangun FLP di sini."
Malam itu, usai chatting bersejarah tadi, dan usai aku berkenalan dengan Ketua FLP Saudi yang seketika itu juga menjadikanku sebagai salah satu staff, aku tidak bisa tidur. Kegembiraan dan ketidakpercayaan luar biasa melingkupi diriku. Subhanallah, benar aku sudah masuk FLP? Secepat ini? Tanggal itupun, 22 Jumadil Ula 1431, aku bubuhkan di salah satu kitab yang aku kaji, dengan kuberi tulisan berbahasa Arab di bawahnya, "yaumul inkhirath fi FLP"
Semua berjalan sangat lancar, kami (saat itu masih berempat) terus melakukan komunikasi dan koordinasi, melobi teman-teman di Saudi untuk direkrut masuk jadi bagian FLP Saudi, hingga akhirnya FLP Saudi mendapat pengakuan dari pusat. Hari-hariku sebagai penulis dan sebagai pengurus FLP Saudi Arabia semakin aku nikmati.
Dan aku benar-benar merasa menjadi seorang penulis yang sebenarnya, yang diakui, setelah secara resmi aku menerima kartu anggota FLP.
Aku genggam erat kartu anggota FLP itu, simbol bahwa aku adalah penulis. Dan perasaan ini aku ungkapkan apa adanya, aku ceritakan pada pendiri FLP, Mbak Helvy Tiana Rosa saat bertemu beliau di musim haji 2010, "Mbak, aku merasa benar-benar jadi penulis setelah menerima Kartu Tanda Anggota FLP." Dan kulihat beliau tersenyum dengan begitu berbinar dan saat itu juga beliau mengetik ungkapanku barusan di Twitter.
Ah FLP, bagiku kau terlalu indah. Oh ya, Masih ada keinginanku dengan FLP, aku ingin sekali melihat logo berwibawa FLP di setiap sampul buku-buku karyaku, semoga keinginan itu segera terwujud, amin Ya Rabbal Alamin :)
Tetaplah jaya FLP-ku. Sebabmu aku bisa terus termotivasi untuk BERBAKTI pada ummat, sebabmu aku bisa terus BERKARYA untuk memberi yang terbaik pada ummat, sebabmu juga aku bisa terus terobsesi untuk selalu BERARTI bagi ummat... Bukankah Nabi telah bertitah, Khoirukum, Anfa'ukum li-n Nas? Yang terbaik di antara kalian, adalah yang paling banyak memberi kontribusi positif untuk manusia dan kemanusiaan. Wallahu A'lam... (*)
Makkah, distric of al-Raseefa, 15 Rabea el-awwal, 1433/6 Februari 2012
Awy' Ameer Qolawun, Penulis dan Koordinator Staff FLP Saudi Arabia
Divisi Support System.

