Aku dan FLP; Asa yang Tak Lindap Oleh Waktu

Entah aku tak tahu, apakah catatan ini menarik atau tidak, namun bagaimanapun yang pasti catatan ini bagiku pribadi tetaplah merupakan salah satu catatan penting yang aku abadikan di diaryku sebagai monumen kenangan dalam fase perjalanan hidupku menjadi seorang penulis.

Bahkan boleh di bilang bahwa catatan kenangan ini adalah rekaman peristiwa saat aku benar-benar merasakan bahwa diriku diakui dan dianggap resmi sebagai penulis. Momen yang sangat indah.

Memang sejak awal karirku memilih jalur menekuni dunia kepenulisan, media yang banyak menginspirasiku sekaligus kerap aku jadikan referensi utama dalam berbagai hal adalah Majalah Remaja Annida. Kala itu, Annida masih dikawal oleh sosok-sosok yang terus terang menjadi favoritku sejak menginjak usia remaja. Nama semisal Mbak Helvy, Mbak Dian Yasmina Fajri (bagaimana kabar beliau sekarang ya?), Mbak Rahmadiyanti Rusdi, Mbak Meutia Geumala, Mbak Dewi Fitri Lestari dan Mas Muhammad Yulius, adalah nama yang terus mengobarkan semangat dalam hatiku untuk terus menulis dan menulis.

Dari Annida ini juga aku mengenal FLP. Ketika itu, medio 1999, saat aku menjabat sebagai redaktur pelaksana Mading Pesantren Addhiya', diam-diam aku menyimpan sebuah keinginan yang waktu itu rasanya sangat mustahil terpenuhi, yaitu bagaimana aku bisa menjadi anggota FLP. Tetapi berbarengan dengan keinginan itu muncul juga pertanyaan, siapa yang bisa aku hubungi, bagaimana caranya? Sementara aku jauh berada di pelosok desa di kabupaten udik yang namanya barusan terkenal saja sebab gara-gara bom Bali, Lamongan.

Fasilitas komunikasi saat itupun masih belum seperti sekarang, aku hanya bisa ternganga-nganga setiap membaca Annida, mataku selalu berbinar penuh harap dan penuh bisik dalam hati, Ya Allah, kapan aku bisa menjadi anggota FLP, kapan aku bisa dekat dengan para penulis ini, mengenal mereka, menggali ilmu dari mereka, apa mungkin? Aku hanya bisa terdiam setiap kenyataan di depanku berbicara lain.

Waktu pun terus berlalu, aku melanjutkan petualangan ilmiahku dengan melanglangbuana dari pesantren ke pesantren, dan aku terus mengasah kemampuan menulisku. Yang aku ingat, setiap aku singgah di kota manapun, aku selalu menyempatkan diri untuk mampir sejenak ke toko buku yang ada di situ dan mencari buku dengan logo FLP. Karena dalam hatiku selalu ada keyakinan, bahwa buku berlabel FLP adalah jaminan; jaminan kreativitas, jaminan kredibilitas, jaminan inovasi, jaminan iluminasi, jaminan keindahan kata-kata, jaminan kekuatan bahasa, jaminan kekayaan ruhani, jaminan kemantapan hati, jaminan pembangunan jiwa, dan jaminan peningkatan rasa takwa.

Dan sekali lagi mataku berkaca-kaca, hatiku sedikit meratap sekaligus berdoa, Ya Allah, kapan aku bisa bergabung FLP? Cabang mana yang bisa aku temui? Sebelum aku menerawang menatap birunya langit dan mengangguk mantap seraya berucap lirih, Insya Allah suatu waktu aku akan jadi bagian FLP.

Dan kesempatan itu hampir saja datang saat aku menjejakkan kakiku di Malang, kala aku mendalami ilmu-ilmu agama dan dakwah di salah satu pesantren elit di kota itu. Aku dengar ada FLP Jawa Timur, dan aku mendapat kontak ketuanya kala itu, Pak Bachtiar HS. Tentu saja seketika aku kontak beliau dan mengutarakan keinginanku untuk bergabung ke FLP, hatiku begitu bahagia dan berbinar.

Tetapi lagi-lagi Allah belum Menghendaki, waktunya belum tiba, sebab saat aku hendak mendaftarkan diri bergabung ke FLP Jawa Timur, aku mendapat panggilan untuk meneruskan studi ke Makkah. Impianku harus aku simpan dulu. Saat itu awal 2004.

Tak terasa waktu terus berlalu, ka annahum yauma yarounaha lam yalbatsu illa 'asyiyyatan au dhuhaha... tahu-tahu telah masuk 2007, aku masih terus mengasah kemampuan menulisku, hanya saja selama kurun waktu itu aku menulis dalam Bahasa Arab, menuai beberapa karya, walhamdulillah.

Pada tahun itu juga, keinginan lamaku kembali mencuat, FLP ternyata tak pernah lekang dari hatiku, tak lindap dari ingatanku, setelah tanpa sengaja aku mendengar bahwa di Mesir ada FLP. Aku berpikir, apakah Saudi Arabia ada FLP? Mendadak aku mempunyai ide lain, tak sekedar bergabung FLP, tapi ingin merintis FLP Saudi, jika memang belum ada.

Namun sekali lagi, sulitnya komunikasi membuatku untuk sementara menyimpan lagi keinginan itu. Tetapi aku tetap mantap, suatu saat aku akan masuk FLP, Insya Allah.

Hari pun berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, hingga masuk 2009. Entah bagaimana ceritanya aku mulai mengenal dunia chatting. Sangat terlambat memang aku mengenal dunia maya. Namun ternyata melalui Mig33 inilah awal tergiringnya aku pada cita-cita yang lama aku pendam.

Seiring dengan semakin aktifnya aku berdiskusi dan bertukar pikiran di Room-Room Mig33, iseng memposting tulisan-tulisan di Blog, dan pertemananku yang semakin meluas, tanpa sengaja suatu hari aku ngobrol dengan salah satu sahabat yang juga tinggal di Saudi, tepatnya dia di Jeddah dan aku di Makkah.

Omong punya omong kami berdua berbincang soal dunia kepenulisan, dan mendadak dia menawariku, "Akhi, gabung FLP yuk?" Tentu saja aku terlonjak kaget.

"Hah, FLP mana ukh?"

"Ya FLP Saudi Arabia, gimana? Aku kenalkan ke ketuanya ya?"

"Di Saudi ada FLP? Sejak kapan?" Tanyaku mengejar dengan penuh rasa penasaran serta kegembiraan tak terungkap.

"Baru saja kok akh, ini kami sedang merintis, akhi harus masuk lho ya, kan udah punya banyak tulisan. Memang sih belum resmi diakui pusat, tapi yuk kita bersama membangun FLP di sini."

Malam itu, usai chatting bersejarah tadi, dan usai aku berkenalan dengan Ketua FLP Saudi yang seketika itu juga menjadikanku sebagai salah satu staff, aku tidak bisa tidur. Kegembiraan dan ketidakpercayaan luar biasa melingkupi diriku. Subhanallah, benar aku sudah masuk FLP? Secepat ini? Tanggal itupun, 22 Jumadil Ula 1431, aku bubuhkan di salah satu kitab yang aku kaji, dengan kuberi tulisan berbahasa Arab di bawahnya, "yaumul inkhirath fi FLP"

Semua berjalan sangat lancar, kami (saat itu masih berempat) terus melakukan komunikasi dan koordinasi, melobi teman-teman di Saudi untuk direkrut masuk jadi bagian FLP Saudi, hingga akhirnya FLP Saudi mendapat pengakuan dari pusat. Hari-hariku sebagai penulis dan sebagai pengurus FLP Saudi Arabia semakin aku nikmati.

Dan aku benar-benar merasa menjadi seorang penulis yang sebenarnya, yang diakui, setelah secara resmi aku menerima kartu anggota FLP.

Aku genggam erat kartu anggota FLP itu, simbol bahwa aku adalah penulis. Dan perasaan ini aku ungkapkan apa adanya, aku ceritakan pada pendiri FLP, Mbak Helvy Tiana Rosa saat bertemu beliau di musim haji 2010, "Mbak, aku merasa benar-benar jadi penulis setelah menerima Kartu Tanda Anggota FLP." Dan kulihat beliau tersenyum dengan begitu berbinar dan saat itu juga beliau mengetik ungkapanku barusan di Twitter.

Ah FLP, bagiku kau terlalu indah. Oh ya, Masih ada keinginanku dengan FLP, aku ingin sekali melihat logo berwibawa FLP di setiap sampul buku-buku karyaku, semoga keinginan itu segera terwujud, amin Ya Rabbal Alamin :)

Tetaplah jaya FLP-ku. Sebabmu aku bisa terus termotivasi untuk BERBAKTI pada ummat, sebabmu aku bisa terus BERKARYA untuk memberi yang terbaik pada ummat, sebabmu juga aku bisa terus terobsesi untuk selalu BERARTI bagi ummat... Bukankah Nabi telah bertitah, Khoirukum, Anfa'ukum li-n Nas? Yang terbaik di antara kalian, adalah yang paling banyak memberi kontribusi positif untuk manusia dan kemanusiaan. Wallahu A'lam... (*)

Makkah, distric of al-Raseefa, 15 Rabea el-awwal, 1433/6 Februari 2012


Awy' Ameer Qolawun, Penulis dan Koordinator Staff FLP Saudi Arabia
Divisi Support System.
READ MORE - Aku dan FLP; Asa yang Tak Lindap Oleh Waktu

Mempertanyakan Eksistensi Pesantren

Sebelumnya, catatan ini hanya analisa general saja, bukan analisa spesifik atas satu sampel kasus, sebab tentu saja hal itu membutuhkan penelitian lebih, sebagaimana yang kita ketahui.

Sekitar awal tahun 2000, saya pernah menulis sebuah artikel (diterbitkan Majalah SANTRI, edisi Maret 2000, no.35) yang mempertanyakan eksistensi pesantren di abad 21 serta kelangsungan peranannya dalam politik, sosial, dan budaya. Pertanyaan sederhana namun menemukan urgensinya justru seiring dengan berjalannya waktu dan terjadinya perubahan yang sangat frontal dalam tubuh bangsa kita selama 10 tahun terakhir ini.

Bila kita seimbang dan arif dalam memberikan penilaian, siapapun mengetahui dan mengakui fakta sejarah bahwa pesantren mempunyai peranan penting dan kontribusi yang tidak kecil dalam pembangunan dan pembentukan karakter bangsa ini. Bahkan embrio berdirinya Indonesia pun tidak lepas dari peran strategis dunia pesantren saat itu yang total mencurahkan pikiran dan tenaga untuk membebaskan diri dari cengkeraman penjajahan.

Lepas dari masa lalu, banyak pengamat mengatakan, bahwa pesantren adalah benteng moral terakhir dan terkokoh yang dimiliki bangsa Indonesia, dan kenyataan ini tak bisa dipungkiri oleh siapapun.

Tetapi, melihat kondisi bangsa yang saat ini begitu carut marut dalam semua sisi kehidupan, muncul pertanyaan, apakah keberadaan pesantren saat ini bisa tetap menjadi support system atau dianggap menjadi menghambat perkembangan pola pikir masyarakat modern? Sejauh apa pula peran pesantren dalam menghadapi disintegrasi moral yang semakin gencar dan meluas?

Sementara di satu sisi, pesantren sendiri adalah lembaga pendidikan tradisional yang menawarkan ide pentingnya menjaga moralitas untuk membentuk sebuah tatanan masyarakat yang kuat. Karena dengan dasar bangunan moral yang kuat tentu saja bangsa bisa melakukan proses seleksi dan filter terhadap segala macam masuknya kebudayaan baru sebagai efek perkembangan, keterbukaan dan kemajuan teknologi informasi yang begitu luar biasa saat ini.

Karena doktrinisasi nilai-nilai moral dan keagamaan dalam pesantren pada dasarnya masih cukup efektif untuk membentuk bangunan moral masyarakat yang menjadi benteng utama dalam menghadapi derasnya modernisasi yang kita tahu sarat sekali dengan muatan kapitalisme, sekulerisme, liberalisme, dan seterusnya.

Namun, tak urung, secara umum terkadang dunia pesantren menghadapi sedikit kebingungan, apakah tetap mempertahankan pola lama, atau melakukan pencangkokan pola baru, atau mengkonvergensikan antar keduanya dalam dunia pendidikan pesantren? Dalam artian menggabungkan ilmu agama dan ilmu umum?

Muncul banyak sekali dilema dalam satu waktu yang sama. Memang jika kita melihat, secara umum setidaknya ada tiga jenis pesantren di tanah air ini. Pertama, pesantren salaf, yang tetap mempertahankan pola lama dengan tidak memasukkan sama sekali ilmu umum. Kedua, pesantren modern yang menggabungkan ilmu umum dan ilmu agama secara bersama. Ketiga, pesantren salaf yang mengambil beberapa jenis ilmu umum yang sekira dipandang penting sebagai bekal kehidupan.

Khusus untuk kelompok pertama, boleh jadi mereka begitu mendalami ilmu agama dan teks-teks thesaurus dengan begitu baik, tradisi kuno tetap terjaga, namun (jika tidak siap) saat mereka dilepas ke luar, seketika tergagap-gagap dengan kehidupan baru yang begitu berbeda, akibatnya pelan namun pasti mereka termarginalkan dari pentas kehidupan, meski pada dasarnya diam-diam keberadaannya sangat dibutuhkan sebagai alternatif terakhir atas kebingungan.

Kelompok kedua, yang memasukkan pendidikan formal ke dalam pesantren, dari satu sisi cara berpikirnya sangat maju dan mengikuti perkembangan zaman. Namun di sisi lain, nama "Pesantren" pelan namun pasti hanya akan menjadi label saja dan itu ditandai dengan banyaknya pesantren tersebut kehilangan nilai-nilai yang menjadi ciri khasnya. Hal ini terjadi bagi pesantren yang tak mampu melakukan managemen atas pengambilan keputusan merger dengan pendidikan formal. Istilahnya, pondoknya hilang, cuma tinggal nama dan sejarah.

Kelompok ketiga, pendidikan agama masih sangat dominan, tetapi untuk pengetahuan umum mereka cukup tercerahkan dan rata-rata nilai kepesantrenan tetap terjaga dengan baik. Jenis pesantren ini umumnya hanya melakukan persamaan saja dalam ijazah dengan mengambil beberapa mata pelajaran penting semisal Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika yang sama sekali tidak mengganggu sistem pesantren, dan secara berkala mengadakan berbagai macam latihan keterampilan sebagai bekal para santri untuk menempuh kehidupan. Sebutan pesantren model ini biasanya dikenal dengan Pondok Modern.

Namun bagaimanapun, secara umum kenyataan berbicara bahwa saat ini pesantren semakin terdesak dengan makin berkurangnya wali murid yang memasukkan anaknya ke lembaga klasik ini kecuali sebagai alternatif terakhir saat tak diterima di mana-mana, atau sebagai buangan bagi anak yang nakalnya luar biasa. Meski tidak ada ceritanya pesantren gulung tikar sebab kekurangan murid karena pemikiran dasar seorang Kyai (pengasuh pesantren) yang mempunyai prinsip terus mengajar meski hanya satu orang saja.

Akan tetapi melihat kecondongan masyarakat yang lebih suka menyekolahkan anaknya agar dapat ijazah serta gelar yang nantinya dengan itu memiliki pekerjaan tetap sebagai jaminan hidup di masa tua (meski kenyataan tidak selalu seperti yang diharapkan, sebab banyaknya sarjana menganggur); membentuk sebuah kekhawatiran tersendiri bagi masa depan bangsa ini.

Apa jadinya sebuah bangsa jika tak memiliki moral baik? Sementara sistem pendidikan di Indonesia (formal) terlihat sekali lebih mementingkan kualitas pemikiran daripada kualitas moral. Porsi untuk pendidikan moral jelas sekali sangat tidak berimbang, sementara para orang tua (atau anaknya sendiri) enggan melirik pesantren sebab terkadang lebih dulu memberi penilaian negatif dengan meragukan masa depan anak jika masuk pesantren.

Di sisi lain, beberapa pesantren berusaha menjawab "kebutuhan" masyarakat itu dengan mendirikan sekolah-sekolah formal dalam lembaga pesantren. Tetapi fakta menyatakan, pelan namun pasti justru lembaga formal ini yang mempengaruhi pesantren, bukan pesantrennya yang mampu mengontrol lembaga formalnya sehingga yang terjadi adalah kehilangan identitas. Istilahnya, ngaji dengan sekolah, pasti ngajine kalah.

Hal itu tentu saja karena pendidikan formal terikat kurikulum yang harus dipenuhi jika misalkan ingin mendapat ijazah, sementara pesantren tidak mementingkan hal itu. Apalagi di lapangan pekerjaan yang dibutuhkan adalah ijazah formal, bukan ijazah pesantren. Akhirnya tentu saja para "santri" dalam pesantren model ini secara alamiah lebih memprioritaskan sekolahnya daripada ngajinya.

Untuk menyiasati kebijakan penggabungan yang justru berakibat fatal dengan hilangnya identitas pesantren, sepenuhnya tentu kembali kepada kecakapan pengelola pesantren untuk memanage hal itu.

Apapun yang terjadi terhadap bangsa ini, peranan pesantren sama sekali tidak bisa dikesampingkan, di samping ia adalah budaya pendidikan asli bangsa Indonesia yang tak dimiliki oleh bangsa lain. Meski untuk saat ini pesantren masih terus dalam proses untuk menemukan formulasi yang pas demi mengikuti perubahan zaman. Walau pada dasarnya, dalam tubuhnya sendiri pesantren tidak mengalami apapun, karena sudah patennya sistem tarbiyah, ta'dib, ta'lim dan tadris yang dikembangkan pesantren sejak awal lembaga ini ada di tanah air.

Sebenarnya di sana masih ada beberapa ancaman untuk eksistensi masa depan pesantren, yang justru datang dari dalam, namun akan kita bahas di kesempatan lain, yaitu fenomena baru kecenderungan generasi penerus pesantren (para Gus dan Neng) yang lebih memilih kuliah di perguruan tinggi formal untuk target ijazah daripada tafaqquh fid din sebagaimana para pendahulunya, dan "tercemarnya" keorisinilan tarbiyah yang mereka terima sebab belajar di luar lingkup pesantren dan jauh dari pantauan orang tua. Wallahu a'lam (*)
READ MORE - Mempertanyakan Eksistensi Pesantren

Forumlingkarpena.net

READ MORE - Forumlingkarpena.net

READ MORE -

Mendidik anak cinta Nabi

Pelajaran resmi pertama yang aku terima dari Babaku adalah sejarah Nabi Muhammad S.a.w. Dulu,setiap hari,usai beliau mengajar di santri putra (sebelum beliau merintis pesantren putri),oleh beliau aku dituliskan sejarah singkat Nabi Muhammad,lalu beliau menerangkan padaku sembari bercerita singkat.

Aku juga ingat,salah satu murid beliau,yang kerap menemaniku bermain,juga sering memberiku cerita tentang Nabi Muhammad,dari hasil dia belajar dengan Babaku. Saat itu aku masih usia awal-awal madrasah,8-9 tahunan lah.

Jadi jagoan-jagoan awal yang aku kenal,sebelum aku tahu Superboy,Kura-kura Ninja,Ksatria Baja Hitam adalah para pendekar-pendekar sahabat semisal pamanda Nabi,Hamzah bin Abdul Muttholib,atau juga Kholid bin al-Walid. Keperkasaan mereka di Medan tempur,membuatku terpukau kala itu. Masa kecilku kerap aku membayangkan diriku terlibat pertempuran-pertempuran besar yang dipimpin Nabi,semisal Badr,Uhud,Khandzaq,Fathu Makkah,Hunain,dll.

Itu soal sejarah Nabi. Kebiasaan lain di lingkunganku juga adalah,suasana yang sangat kental dengan Sholawat Nabi. Bahkankan ada istilah,pesantren sejuta sholawat,begitu sebagian orang menyebut tempat tinggalku.

Orang tuaku begitu menanamkan pada kami agar terbiasa banyak-banyak baca sholawat pada Nabi. Apa lagi jika telah tiba malam jumat,atau momen bulanan semisal Rabi'ul Awwal,bulan Maulid Nabi,menyibukkan diri dengan baca sholawat adalah seolah-olah kewajiban tak tertulis kami.

Adalah Cinta Nabi,itu yang pertama kali dididikkan oleh orang tua padaku sebelum aku mengenal segala sesuatu. Lama setelah aku dewasa,baru aku fahami,bahwa mereka berdua menerapkan sistem mendidik anak-anak yang diajarkan oleh Nabi.

Dalam sebuah hadits,beliau bersabda, "Ajari anak-anakmu tiga hal : cinta Nabimu,cinta keluarganya,dan baca al-Qur'an".

Asas-asas yang sangat penting bagi setiap muslim di awal hayatnya. Jadi,sebelum mengajari anak-anak baca,tulis,dan menghitung,pertama kali yang seyogyanya diajarkan,adalah yang diintruksikan Nabi tadi.

Sebab ternyata dibalik itu,ada rahasia besar,yaitu pembentukan karakter atas anak sejak dini. Hal itu karena sebenarnya sejarah kehidupan Nabi adalah tidak sekedar (Qoshos Turwa aw Hikayah Tuhka),tidak cuma cerita biasa atau dongeng menjelang tidur saja.

Tetapi ia adalah sebuah madrasah,kawah candradimuka yang agung untuk mempersiapkan generasi muslim yang memiliki kejayaan dan kedigdayaan di masa depannya. Biografi Nabi bagi anak-anak kita adalah berfungsi sebagai pembentuk karakter,juga menanamkan bibit keimanan dan cinta di hati mereka,membangun aqidah yang kokoh di benak mereka,suplemen utama jiwa mereka,pendidikan terhadap perilaku,sekaligus peng-install-an ruh perjuangan dalam sanubari mereka.

Bukankah dalam diri dan semua perilaku Nabi itu terdapat Uswah hasanah (teladan yang baik),bagi kita kan? Panutan bagi orang yang mengharap kehidupan indah di akhirat kelak,dan orang yang banyak Ingat Allah.

Adapun al-Qur'an,karena ia adalah kitab kehidupan,dan Nabi adalah pengajar kehidupan yang menjelaskan kitab tadi. Lalu,apa arti hidup jika kita tak tahu apa yang harus ditempuh dalam kehidupan itu sendiri?

Faktor utama kemunduran umat islam saat ini adalah,tidak banyak lagi kenal sejarah Nabinya,dan tak lagi begitu total dalam mencintainya. Fenomena yang begitu menyedihkan,jika saat ini,generasi muda Islam pun banyak yang tak tahu siapa ayahanda dan ibunda Nabi,apalagi sejarahnya,mereka hanya tahu bahwa mereka punya Nabi yang namanya Muhammad,itu saja.

Apalagi nama sahabat-sahabat Nabi,jauh panggang dari arang deh. Kita lebih kenal Voltaire,Adam Smith,Nietzche,Isaac Newton,Albert Einstein,bahkan Karl Marx,daripada peri kehidupan Nabi sendiri..

Cinta Rasul,itu seharusnya slogan hidup kita. Dan aplikasi cinta itu,salah satunya dengan banyak menyebut namanya,sekaligus meneladani apapun yang dilakukannya. Dunia pun mengakui hal itu,sudah semestinya sebagai umatnya,kita yang pertama kali menerapkannya.

Soal baca sholawat,bukankah orang yang cinta terhadap seseorang,banyak menyebut nama yang sosok yang dicintainya kan? (Man ahabba syai-an,katsuro fi dzikrih). Ini belum keuntungan baca sholawat Nabi,yang sekali baca saja,melebur 10 dosa,menaikkan 10 derajat klasemen kita,dan menambah 10 poin pahala. Jika baca 100,berhak atas syafaat Nabi,yang dapat syafaat Nabi,artinya hanya satu,surga..

Nah bagaimana jika kita membaca sampai ribuan? Ratusan ribu? Atau bahkan jutaan?

Akhir catatan sederhana ini, perlu dijadikan masukan nih buat para pendidik PAUD dan Playgroup,agar memasukkan kisah-kisah Nabi pada anak didik mereka,juga buat para ibu-ibu muda,dan ibu-ibu yang punya balita lagi, gimana? :)
READ MORE - Mendidik anak cinta Nabi

READ MORE -

Belajar Peka

READ MORE - Belajar Peka

Arsip II

PENTING : Untuk seluruh peserta yang lolos seleksi, harap segera mengirimkan biodata singkatnya (nama,nama pena, domisili, blog dan facebook, email, buku yang pernah ditulis, karya yang sudah dipublikasikan di media, motto hidup, kelurga jika sudah berkeluarga) berupa uraian maksimal 200 kata, ke email tribute.to.palestine@gmail. com

@ Nama : Alawy Aly Imron Muhammad
@ Nama Pena : Awy" Ameer Qolawun
@ Domisili : Hayy al-Rushaifah, Makkah, KSA
@ Blog : www.alawyaly.blogspot.com, www.statusfbku.blogspot.com, www.biografinabi.blogspot.com, www.alwyemran.multiply.com
@ Facebook : alwyemran@gmail.com
@ Email : alwyshyfa_786@yahoo.co.id
@ Buku yang pernah ditulis :
- antologi cerpen "Bila Kuncupnya jadi Bunga"
- antologi cerpen "Debu-Debu Intan"
- antologi cerpen "Denting Nada Cinta"
- Bengkel Jiwa
- Katakan dengan Bangga aku adalah Santri
- Nukhbatul Azhar wa Nuzhatul akhyar (biografi Nabi dalam bahasa arab)
- Assaif al-Maslul (Serial pertempuran Nabi,dalam bahasa arab)
- Quthuf Daniyah (buku tentang emansipasi wanita,dalam bahasa arab).
- Ushul Takhrijil Hadits lil mubtadi-in
- dan masih banyak lagi (Total 24 Buku,14 berbahasa arab)

@ karya yang sudah dipublikasikan di media :
- antara pujian dan kritik (esai,di MDF Al-Mu'tashim, 1998)
- Pemimpin yang sebenarnya (esai, di Al-Mu'tashim, 1998)
- Eksistensi Pesantren di abad 21 (Esai,di tabloid bulanan SANTRI, 1999)
- Air terjun (Lukisan,Mentari Putera Harapan,2002)

@ motto hidup : (wa idza kaanatin nufuusu kibaro # Ta'ibat fi murodihal ajsamu).. Jika jiwa itu memiliki kemauan besar dan menggebu,maka tubuh pasti mengalami kelelahan dalam menggapainya

@ keluarga : lajang
READ MORE - Arsip II

Tentang Penulis

Foto Saya
nikmat terbesar kedua setelah iman adalah, kegemaran membaca (Habr el-Ummah, Abdillah bin Abbas)

Arsip Blog

Pengikut

Bagi-bagi File